Film “1917” Sepucuk Surat dan Visualisasi yang mumpuni


Di awal tahun ini, film-film nominasi Piala Oscar mulai bermunculan di beberapa bioskop Tanah Air. Salah satunya film “1917“.

Film karya Sam Mendes ini berhasil memenangi Golden Globes Awards 2020 untuk kategori BEST MOTION PICTURE DRAMA, bahkan sampai mengalahkan film Joker yang sempat viral beberapa waktu lalu.

Nggak tanggung-tanggung sederet bintang ternama juga turut ambil bagian dalam film ini. Sebut saja Benedict Cumberbatch (Kolonel Mackenzie), George MacKay (Kopral Schofield), Dean Charles Chapman (Kopral Blake), Andrew Scott (Letnan Leslie) dan Colin Firth (Jendral Erinmore).



Film action terbaru ini menceritakan tragedi Perang Dunia 1, tepatnya pada bulan April 1917.

Badan Intelijen Udara Inggris mendapat informasi bahwa pasukan Jerman menarik pasukannya dari Hindenburg. Namun, bukan untuk mundur melainkan bersiap menyerang Inggris.

Jenderal Erinmore (Colin Firth) memberikan perintah kepada dua tentara muda Britania Raya, yaitu Kopral Schofield (George MacKay) dan Kopral Blake (Dean Charles Chapman). Keduanya ditugaskan mengirim pesan kepada Batalion ke-2 Resimen Devonshire.

Mereka bergegas melawan waktu, melintasi wilayah musuh untuk menyampaikan pesan peringatan tersebut. Di dalam resimen tersebut, salah satu prajurit merupakan saudara Blake.



Sang sutradara Sam Mendes dan sang sinematografer Roger Deakins patut diapresiasi. Mereka dinilai mampu memberikan pengalaman sinematik yang luar biasa pada film ini.

Film 1917 seperti ngajak kalian buat berpertualang bersama Blake dan Schofield melewati tantangan mendebarkan. Sepanjang film, napas kalian dijamin nggak bakal lega karena intensitas aksi dan ketegangan.

Salah satu yang sangat menarik dari film ini adalah gaya atau teknik pengambilan gambarnya. Setiap detail momen perang dunia 1 mampu ditangkap oleh film ini, dengan gaya one take atau one cut.

 



Jadi wajar jika film ini meraih Golden Globes Awards 2020 untuk kategori BEST MOTION PICTURE DRAMA. Soalnya gaya pengambilan gambar film ini memang rumit dan epic sih.

Pengalaman sinematik yang diberikan film ini, jelas semakin menguatkan alasan film ini seharusnya disaksikan pada layar selebar mungkin dan dengan suara speaker sebaik mungkin. Gitu sih menurut gue…

Full-time writer | OKEGUYS
A person who likes watching and really likes the world of design, motion, video editing, and writing.

Seberapa menarik artikel ini? Komen di bawah ya..

      Leave a reply

      OKEGUYS
      Logo
      Register New Account
      Reset Password